Berislam secara umum dan ibadah secara khusus akan ditentukan oleh bagaimana situasi hati dan kejiwaan. Semua ibadah yang dilakukan dalam Islam itu nilainya ditentukan secara prinsip oleh hati pelakunya. Bahwa dalam diri manusia itu ada segumpal darah, jika baik akan baik semua anggota tubuhnya. Tapi jika rusak akan rusak seluruh anggota tubuhnya. Itulah hati. Hati yang baik inilah yang akan menentukan Apakah ibadah yang dilakukan itu baik dan diterima atau buruk dan tertolak.
Dalam realitanya ibadah yang dilaksanakan dengan hati yang benar dan bersih itu akan melahirkan “dzikrullah” yang menjadi esensi seluruh ibadah. Dengan dzikir itulah amalan-amalan yang dilakukan bernilai ibadah termasuk yang bersifat duniawi. Tanpa dzikrullah amalan ritual sekalipun tidak akan bernilai ibadah. Di Surah di Al-Jumu’ah misalnya Allah memerintahkan hambaNya untuk hadir di Jumatan dengan penyebutan dzikrullah. Tapi setelah selesai Sholat, mereka diperintah bertebaran di bumi mencari rezekiNya, juga dengan penyebutan dzikrullah. Keduanya dalam pandangan Islam (Sholat dan mencari rezeki) yang benar bernilai ibadah.
Pada aspek inilah puasa harus dilihat sebagai amalan hati (ibadah). Dan Karenanya salah satu persiapan yang penting menyambut Ramadan ini adalah dengan pembersihan hati dan jiwa (tazkiyatun nafs). Al-Qur’an memang mengingatkan: “beruntunglah siapa yang mensucikan. Dan ingat Asma Tuhannya dan Sholat”. (Al-a’laa). Ayat ini seolah mengingatkan bahwa mengingat Allah (dzikrullah) itu hanya mungkin ketika hati berhasil disucikan.
Sayangnya banyak di kalangan umat perhatiannya hanya fokus pada aspek legal atau masalah-masalah fiqhiyah semata. Akibatnya keinginan untuk beribadah secara benar seringkali dibarengi oleh hati yang kurang bersih. Yang terjadi kemudian adalah ketinggian hati dan ego menyikapi perbedaan-perbedaan. Satu contoh yang biasa saya contohkan adalah bagaimana ketika terjadi perbedaan pendapat menyikapi awal dan akhir Ramadan. Moon-sighting biasanya merubah menjadi “moon-fighting”.’
Maka persiapkan menyambut Ramadan dengan membersihkan hati dan jiwa. Bersihkan dari noda-noda dosa dan penyakit hati lainnya. Dengan itu Ramadan akan kita sambut dengan lebih baik dan maksimal. Apalagi niat menjadi fondasi ibadah. Dan niat yang benar hanya akan terjadi ketika hati itu bersih.
Ilmu adalah jalan kebaikan.
Selain niat sebagai rukunnya, sebuah ibadah hanya akan diterima ketika ada kesesuaian atau dalam bahasa syariah “ittiba’” atau mengikuti. Mengikuti di sini maksudnya adalah melaksanakan ibadah-ibadah yang kita lakukan dengan mengikut kepada ajaran Allah di Al-Qur’an dan RasulNya (Sunnah). Niat yang benar melaksanakannya jika tidak sejalan dengan ajaran Allah dan RasulNya “maka tertolak” (fahuwa raddun).
Karenanya kesuksesan seseorang dalam ibadahnya memerlukan keilmuan. Rasulullah menegaskan: “barangsiapa yang dikehendaki Allah baginya kebaikan maka Dia akan menjadikannya paham (yufaqqihhu). Termasuk keilmuan atau pemahaman yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadan ini. Apa yang wajib, Sunnah, mubah, makruh, dan apa saja yang haram dan membatalkan puasa. Jika ada pelanggaran di saat berpuasa bagaimana jalan keluarnya dalam Syari’ah, dan seterusnya.
Sayang bahwa masih mayoritas umat ini melaksanakan ibadah-ibadah yang mereka lakukan berdasarkan perkiraan sendiri atau berdasarkan pengalaman turun temurun. Sehingga sebagian praktek-praktek keagamaan itu mengikut kepada tradisi nenek moyang, yang seringkali bertentangan dengan syariah dan mendatangkan dosa.
Akhirnya mari kita sambut bulan suci Ramadan dengan hati riang. Persiapkan secara matang dan menyeluruh bulan Ramadan, termasuk persiapan fisik, akal atau ilmu dan mindset yang benar. Namun tidak kalah pentingnya adalah persiapan ruhiyah, hati dan kejiwaan.
Semoga Allah menguatkan dan menerima dari kita semua. Ramadan Mubarak!
NYC Subway, February 2025
*Director of Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation