In Memoriam Mahatma Gandhi
Hari itu, tiga puluh Januari
Matahari menyaksikan tragedi
Peristiwa menggetarkan dunia
Di hadapan Tuhan dan manusia
Gandhi melangkah ke tempat suci
Yang telah ia lakukan setiap hari
Ketika mengadukan isi hatinya kepada Tuhan
Seorang pria membara dengan api kebencian
Tiga letusan mengoyak ke udara
Menembus tubuh seorang lelaki renta
Sejenak dunia berhenti
Melihat kekejaman yang telah terjadi
Burung-burung yang hendak terbang
Akhirnya kembali ke sarang
Menyaksikan tubuh renta rebah di tanah
Dengan menyebut Tuhan yang ia sembah
Malam itu, langit Delhi menangis
Mengiringi nafas terakhirnya
Melihat bibir keringnya tersenyum manis
Para Dewa tak tega ketika menyambutnya
Cahaya kehidupannya meredup
Namun cahaya dalam sejarah tak redup
Sebab sekali pun dia telah pergi
Sebenarnya, ia tak benar-benar mati
Dunia kehilangan seorang anak manusia
Namun mendapatkan warisan yang berharga
Keberanian untuk mencintai di tengah kebencian
Lebih berharga dari ribuan pidato tentang kebencian
Malang, 30 Januari 2025
Salam sehat,
M. Sinal