Tak kalah penting untuk dicermati, beras memang sangat penting untuk keberlanjutan pembangunan. Bagi banyak bangsa di dunia, beras juga merupakan sumber kehidupan dan sumber penghidupan bangsa. Bahkan Proklamator Bangsa Bung Karno secara gamblang mengingatkan 73 tahun lalu, urusan pangan menyangkut mati dan hudupnya suatu bangsa.
Namun begitu, apa yang disampaikan diatas, bukan berarti semua kiprah kehidupan harus "diberaskan", tapi pelan dan pasti, ketergantungan terhadap nasi, mesti bisa dikurangi. Stop kebijakan dan program yang sifatnya "tojaj'ah" serta mengganggu semangat diversifikasi pangan. Jangan diulang lagi program Raskin atau Rastra.
Begitu pun dengan Program Bantuan Beras langsung kepada keluarga penerima manfaat. Bukankah akan lebih keren, jika yang diberikan tidak hanya beras, tapi juga jagung, sagu, sungkong dan bahan pangan lain sesuai dengan kearifan lokal daerahnya. Mereka yang biasa makan jagung sebagai pangan pokoknya, ya diberi jagung. Begitu pun yang budayanya makan sagu atau singkong.
Mumpung Ketua Dewan Pengawas Perum Bulog adalah Kepada Badan Pangan Nasional, apa salahnya kalau program Bantuan Beras Langsung yang tersisa 4 kali lagi, bisa diisi oleh beragam jenis pangan sesuai dengan budaya lokalnya masing-masing. Bapanas dan Bulog tidak ada salahnya, bila membagasnya dengan Kemenko bidang Pangan dan BAPPENAS.
Mari kita tunggu perkembangan berikutnya. (PENULIS, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT).