(Jejak Banjir di Tanah Andalas)
Air mungkin telah surut
tapi gelisah di dada tidaklah ikut
Setiap genggam meraba reruntuhan
menyisakan sejumlah penderitaan
“Apakah dia masih hidup?”
bisiknya, lirih, terlihat gugup
oleh deru alat berat dan isak orang-orang
yang rumahnya dan keluarganya hilang
Ia memungut selendang
yang pernah dipakai istrinya
Wangi itu telah hilang
ikut hanyut entah ke mana
Lalu ia duduk di batu yang tersisa
menatap langit yang tak lagi jingga
seolah ingin bertanya pada Tuhan:
mengapa cinta harus diuji dengan kehilangan?
Dengan air mata yang tak pernah kering
Serta doa di antara puing-puing
Ia tetap mencari
karena masih percaya
bahwa sesuatu yang dicintai
bukan untuk diambil selamanya
melainkan untuk ditemukan
di waktu yang paling menggetarkan
Ketahuilah para perusak hutan:
hutan menangis tanpa suara
daunnya gugur membawa doa
yang tak pernah kalian dengar
akibat tindakanmu yang tidak benar
dan dosa hijau itu akan dikembalikan
sebagai luka bagi anak cucu kalian
Malang, 8 Desember 2025
Salam sehat,
M. Sinal