life-style

Mengingat Kelahiran Rasulullah SAW-02

Senin, 16 September 2024 | 07:17 WIB
Khutbah Jumat tentang mengapa dahulu tak ada maulid Nabi (Freepik)

Bahkan boleh ada yang memang tidak tumbuh sama sekali. Dan hal itu tidak mengurangi sama sekali keimanan dan komitmen ketaatan dalam menauladani Rasulullah SAW.

Itu beberapa hal yang menjadi catatan dalam memahami ketauldanan (al-uswah / al-Qudwah) kepada baginda Rasulullah SAW. Jangan karena ras/etnik tertentu dengan budaya tertentu pula lalu merasa lebih dekat kepada Sunnah dibanding yang lain. Semuanya harus ditempatkan pada posisi yang proporsional.

Muhammad SAW adalah Rahmah

Selain dikenal sebagai “al-Uswah al-hasanah” (suritauladan yang baik), dalam Al-Qur’an Rasulullah SAW juga disebut sebagai “rahmah” (kasih sayang). Allah berfirman: “وما ارسلناك الا رحمة العالمين" (dan Aku Kami tidak mengutusmu kecuali sabagai rahmah bagi seluruh semesta).

Sebelum saya menjelaskan tentang apa makna kasih sayang atau rahmah, saya kembali mengingatkan kekeliruan atau kesalahan dalam memahami makna rahmah.

Pada umumnya umat Islam memahaminya pada aspek-aspek terbatas dari kehidupan Rasulullah SAW. Khususnya dalam hal karakter pribadinya. Bahwa Rasulullah itu lembut, baik, bijak, dan seterusnya benar dan mulia.

Tapi memahami kasih sayang pada aspek itu semata tentu menyempitkan makna rahmah bahkan membatasi deskrikpsi kemuliaan Rasulullah SAW sebagai “insan Kamil” (manusia sempurna).

Karenanya “Rahmah” harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Bahwa Rasulullah sebagai representasi kasih sayang itu harus dilihat secara mendasar pada sosok kepribadiannya, Iya harus.

Tapi lebih mendasar lagi kasih sayang itu harus dilihat pada misi kerasulannya. Misi karasulan inilah yang disebut “hidayah” dalam bahasa Al-Qur’an. Sebagaimana Allah berfiman: “dan sesungguhnya engkau pasti menunjuki ke jalan yang lurus” (Surah As-Syura: 52).

Hidayah sebagai rahmah ini mencakup kehidupan manusia secara menyeluruh (kaaffah). Baik pada tataran kehidupan personal (individual) maupun kehidupan sosial (komunal).

Pada aspek individual saya tidak lagi akan tuliskan. Karena beberapa waktu lalu saya telah menulis panjang tentang hal ini dengan judul memahami hidayah).

Yang ingin saya elaborasi kali ini adalah rahmah Rasul pada tataran kehidupan sosial (kolektif atah jama’i). Rahmah pada koneksi sosial ini saya menyebutnya sebagai “transformasi” atau perubahan mendasar dalam kehidupan manusia secara kolektif.

Dengan demikian ketika Rasulullah disebut sebagai “rahmah” saya menyebutnya sebagai “Muhammad the transformer”.

Bahwa Rasulullah SAW itu adalah sosok transformer yang telah hadir membawa perubahan mendasar dalam kehidupan kolektif manusia.

Apa dan bagaimana transformasi komunal yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW? (Berlanjut...).

Halaman:

Tags

Terkini

Mutiara Pagi: Nilai Persahabatan (Bagian 2275)

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:57 WIB

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB