JournalNusantara.com - Kenikmatan itu anugerah. Tapi berupa apa? Jika direnungi, kenikmatan itu bukan kasur yang empuk, tapi tidur yang nyenyak. Bukan rumah mewah, tapi kenyamanan hati di dalamnya. Bukan dapat uang lebih, tapi rasa syukur yang berkecukupan.
Maka lihat pula dari sisi yang sama kepada musibah. Musibah itu bukan kemiskinan, tapi hidup tanpa iman, bukan kehilang harta benda, tapi kehilangan kehormatan, bukan sedih dalam kesakitan, tapi bangga dalam kemaksiatan.
Baca Juga: Bu Kades Panyusuhan, Bersama Masyarakat Membangun Desa
Dengan demikian anugerah itu tidak senantiasa di maknai berupa sesuatu yang nikmat, nyaman, mewah, dan indah.
Begitu pula musibah tidak senantiasa di maknai berupa sesuatu yang sedih, kekurangan, sakit, dan air mata.
Karena kasur yang empuk, makanan enak yang melimpah, kendaraan mewah yang nyaman, semua bisa menjadi sebuah musibah jika semua kenikmatan itu justru melalaikan kita dari Allah.
Dan sebaliknya, kesederhanaan, kekurangan, sakit, dan air mata, semua bisa menjadi sebuah anugerah jika semua yang kita alami dan rasakan justru semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Baca Juga: 81 Seniman Lintas Negara Ikuti Pameran di Kota Bandung
Ibnu Hazim rahimahullah berkata,
كل نعمة لا تقرب من الله عز وجل، فهي بلية.
“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 82)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
ومصيبة تُقْبِلُ بك على الله؛ خيرٌ من نعمةٍ تُنْسيك ذكر الله.
"Sebuah musibah yang membuat dirimu menghadap kepada Allah, itu lebih baik dibandingkan dengan sebuah kenikmatan yang membuat dirimu lupa dari mengingat Allah."
[Jami'ul Masail, jilid 9 hlm. 387]