Oleh: Agung Wibawanto
Budaya pemain bola lokal itu suka berlari di lapangan tanpa konsep sampai capek sendiri, grusak-grusuk saat mendapat bola (bingung), kalau tidak menendang sembarangan ya pasti kerebut lawan. Keteteran saat bertahan karena semua ingin cetak gol. Akibatnya, emosi tidak terkontrol, tidak fokus, kehabisan stamina, ujung-ujungnya kalah lagi kalah lagi.
Untuk tingkat Asia Tenggara saja sulit melawan Thailand, Vietnam, Laos ataupun Malaysia. Sekadar penjadi penggembira ikut turnamen. Ranking FIFA antara 150-200. Belum lagi bicara liga Indonesia atau kejuaraan tingkat daerah seperti PON dsb. Tawuran antar pemain menjadi yang paling favorit.
Protes sampai menyerang wasit sudah biasa. Mafia ikutan bermain mengatur skor, atau penonton (suporter) yang iseng jebol pager stadion ngamuk jika klub atau tim nya kalah. Semua kekacauan ini sepertinya begitu dinikmati oleh mereka yang bilang, "Bangga karena pemainnya pribumi asli bukan naturalisasi."
Pembinaan? Apa ada pembinaan selama ini? Lihat berapa banyak pemain muda yang digadang-gadang bakal hebat akhirnya terbenam. Bukan salah pelatih dan sistem juga, melainkan pemain yang begitu jemawa sudah merasa hebat dan super star. Diberi kesempatan tapi tetap tidak berkembang.
Kini, manajer timnas melakukan potong generasi (mau tidak mau). Ada pelatih hebat di Timnas Remaja (U15-17), Nova Arianto. Ada Indra Syafri di Timnas Muda (U19-20), lalu ada STY melatih Timnas U23 dan senior. Mereka akan melewati fase berjenjang melalui pembinaan ketat (kompetisi internal, tidak ada jalan instan).
Dari fase Timnas Remaja sudah mulai mengembangkan pemain naturalisasi sebagai sistem yang sudah biasa dilakukan oleh negara lainnya (Perancis, Australia, Italia, Amerika dll). Malaysia, Philipina dan Singapura kini mengikuti jejak Indonesia lakukan naturalisasi. Namun berbeda dengan Malaysia.
Warga Malaysia iri dengan pemain naturalisasi Indonesia yang memang memiliki blood keturunan Indonesia, bukan hanya orang asing yang bermain di liga lokal. Dulu kita pakai sistem di Malaysia merekrut pemain timnas karena pemain asing sudah 4-5 tahun stay di Indonesia, seperti Cristian Gonzales.
Warga Malaysia juga iri karena pemain naturalisasi Indonesia nasionalisme nya tinggi. Lebih memilih Indonesia yang ranking FIFA jeblok ketimbang Australia, Belanda dll. Mereka juga bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Mereka harus memilih menjadi WNI ketimbang warga negara kelahiran.
Mereka juga siap digaji rendah sebagai pemain nasional. Mereka siap diolok-olok membela timnas antah berantah ketimbang main di negara kelahirannya. Mereka hanya ingin berkontribusi membela negara keturunan keluarganya. Hasilnya? Indonesia masuk ke Piala Asia 2025. Indonesia juga sedang menuju piala dunia 2026. Ranking FIFA melesat naik.
Timnas Remaja dan juga Garuda Muda semakin mentereng dan kerap mengalahkan tim negara kuat. Hauslah akan kemenangan jangan pernah mau dan apalagi suka kalah. Banyak orang luar (yang bukan keturunan) bahkan mereka cinta Indonesia dan mau berkontribusi untuk Indonesia.
Sejak zaman perjuangan, ingat dengan Douwes Dekker dll, mereka bukan Indonesia tapi kadang lebih Indonesia. Susi Susanti dan Alan Budikusuma juga bukan pribumi tapi mereka berjuang berdarah-darah demi nama dan bendera Indonesia di ajang olimpiade (cabor bulutangkis).
Masih banyak lagi warga Indonesia dan mungkin sudah berkawin silang dan memiliki anak bule yang tidak bisa kembali ke tanah air. Apakah mereka tidak berhak jika ingin kembali pulang dan memilih menjadi WNI? Terakhir, tanyakan kepada dirimu sendiri, seberapa nasionalis anda?
Tabik.