olahraga

Kiriman Surat Terbuka untuk Peter F Gontha

Minggu, 15 September 2024 | 12:01 WIB
Pemain naturalisasi timnas tengah menuai pro dan kontra. (Foto: Instagram.com/@timnasindonesia)

Karenanya saya justru mengapresiasi dan menghargai risiko besar yang mereka ambil. Lagipula semua keputusan itu kan memang mengandung risiko. Seperti yang Saudara katakan pada awal kalimat bahwa sikap Saudara berisiko, walau dampaknya mungkin hanya sekadar dirujak warganet se-Indonesia.

7. Apakah menurut Anda tidak lebih baik membina pemain kita dari muda (SD s/d dewasa)?

Jawaban Saudara: "Saya rasa demikian."

Tepatnya begini. Selain jawaban saya seperti yang di poin 3, semua insan sepak bola melihat ada pembinaan dari sejak SSB, hingga kompetisi kelompok umur, yang kemudian menghasilkan timnas untuk U-16, U-17, U-19, U-20 dan U-23.

Saat ini pun masih terus berjalan sesuai cetak biru yang disusun PSSI terkini bersama FIFA, termasuk pembenahan wasit, stadion, lapangan TC, dan sebagainya.

Bahkan kompetisi untuk perempuan akan dihidupkan kembali pada 2025 esok, pasca kompetisi Galanita dibubarkan hingga Timnas Putri Indonesia terlalu lama tertidur dan sulit berprestasi, bahkan untuk sekelas ASEAN pun.

Persoalan sepak bola Indonesia itu kompleks. Dari kompetisi yang di ASEAN saja belum bisa menjadi yang terbaik. Lalu persoalan mental pemain, kurang cepatnya memahami taktik kendati memiliki skill ball yang sangat baik, kualitas wasit yang belum membanggakan, kualitas rumput yang mengkhawatirkan, dan berbagai persoalan lain di dalamnya, termasuk mafia bola yang tidak mudah diberantasnya.

8. Apakah tidak lebih baik kalah dengan terhormat daripada menang atau seri dengan cara yang merendahkan martabat bangsa?

Jawaban saya: "Tentu lebih baik menang, seri atau kalah terhormat lewat perjuangan yang penuh cinta, siapa pun yang main. Karena siapa pun mereka yang membela tanah air ini, artinya mereka adalah pejuang olahraga. Hal mana saat mereka sudah memiliki paspor Indonesia, maka hak dan kewajiban mereka semuanya sama.

Jadi semua itu tidak sesederhana pertanyaan dan pernyataan Saudara. Kecuali bila ditujukan hanya kepada Bung Towel atau segelintir orang yang anti pemain naturalisasi, mungkin akan disambut baik.

Tapi karena ditujukan kepada publik, maka jawabannya seperti ini. Untuk itu mohon maaf bila kita berseberangan pemikiran.

Saya dan Saudara sama-sama pencinta musik Jazz. Jadi seperti halnya Jazz yang musiknya penuh improvisasi, maka PSSI pun akan elok bila berimprovisasi agar bisa mengatrol Timnas Indonesia, sekaligus transfer pengalaman, ilmu dan mental bertandingnya kepada pemain lokal, lewat pemain keturunan, selain membangunkan motivasi pemain Liga-1 agar lebih serius berlatih dan berkompetisi sehingga bisa dilirik pelatih nasional.

"Yang terakhir, bila Saudara marah karena diejek oleh seorang teman asing Saudara yang akhirnya Saudara usir dari kantor Saudara selepas mencemoohkan PSSI, maka itu 100% murni urusan Saudara dengan orang asing tersebut. Nyatanya justru banyak pihak asing menyikapi positif akan perkembangan sepak bola Indonesia. Coba baca banyak media deh."

Terima kasih dan salam olahraga
Wahyu Sutono

Halaman:

Tags

Terkini

Mencerna Makanan Saat Sakit

Sabtu, 4 April 2026 | 10:43 WIB

Taktik Serangan Balik Sepakbola

Jumat, 3 April 2026 | 20:38 WIB